Pelangi di Mars: Film Fiksi Ilmiah Keluarga yang Mengubah Dunia Perfilman Indonesia
Film Pelangi di Mars menjadi salah satu proyek perfilman paling ambisius yang pernah dibuat di Indonesia. Dengan konsep cerita yang menyentuh dan visual futuristik, film ini menawarkan pengalaman baru bagi penonton. Berikut adalah beberapa fakta menarik tentang film yang sedang mencuri perhatian dunia.
1. Teaser Trailer Perdana Perlihatkan Kelahiran Manusia Pertama di Mars
Teaser trailer resmi dirilis pada 24 November 2025, menampilkan momen emosional ketika karakter Pratiwi melahirkan seorang bayi bernama Pelangi di Planet Mars. Adegan ini bukan hanya pembuka, tetapi juga menjadi gambaran awal atmosfer dunia baru yang akan dieksplorasi dalam film.
Produser Dendi Reynando menjelaskan bahwa teaser ini merupakan pintu masuk utama bagi penonton untuk mengenal dunia Mars versi Pelangi di Mars. “Cuplikan ini kami siapkan sebagai pintu masuk, agar orang-orang bisa melihat sedikit seperti apa dunia Pelangi di Mars,” ujar Dendi.
Film ini memusatkan cerita pada Pelangi, yang tumbuh besar ditemani robot-robot dari berbagai negara. Mereka menjadi keluarga sekaligus sahabat dalam petualangan besar untuk menemukan mineral ajaib yang dapat menyelamatkan Bumi dari krisis. Sutradara Upie Guava mengatakan bahwa pembuatan teaser saja sudah menuntut detail tinggi. “Intinya film ini menggunakan beragam aspek teknis filmmaking,” ungkap Upie, yang menyebut perpaduan animasi hingga motion picture sebagai bagian dari proses kreatifnya.
2. Dibuat dengan Teknologi Extended Reality (XR)
Produksi Pelangi di Mars menggunakan teknologi Extended Reality (XR), sebuah terobosan yang banyak dipakai dalam film-film internasional. Produser Dendi Reynando menyebut teknologi ini memungkinkan pembuatan dunia imajinatif tanpa meninggalkan unsur emosional dalam cerita. “Upie bilang ada teknologi baru bernama Extended Reality (XR)... dan itu yang kami lakukan di film ini,” kata Dendi.
Film ini tidak hanya memakai XR, tetapi juga menggabungkannya dengan animasi, motion capture, dan live action. Menurut Dendi, semua teknik ini dipadukan dalam satu sistem produksi hybrid. “Metode animasi kami berbeda dengan tradisional. Syukurnya film ini hampir rampung, tinggal 10 persen lagi,” ujar Dendi.
Proses penggabungan berbagai metode produksi dalam satu adegan digambarkan Dendi sebagai tantangan besar. Ia mengakui bahwa dirinya belum pernah menangani proses yang mengombinasikan XR, green screen, dan live action secara bersamaan dalam skala sebesar ini. Meski demikian, Dendi memastikan bahwa film ini tetap dibuat untuk bisa dinikmati keluarga dan anak-anak. “Makanya patokannya film ini untuk anak kecil dan keluarga... Bagi kami ini lebih dari sekadar film dan inginnya menjadi alternatif idola anak-anak Indonesia,” ucap Dendi.
3. Berlatar Tahun 2090 dan Mengangkat Isu Krisis Bumi
Cerita Pelangi di Mars mengambil latar tahun 2090, ketika cadangan air bersih di Bumi menipis dan dikuasai sebuah perusahaan besar bernama Nerotex. Dalam dunia yang semakin kritis, Pelangi hidup sendirian di Mars setelah ditinggalkan ibunya dan tumbuh bersama para robot pintar.
Film ini juga dibintangi Messi Gusti, Myesha Lin Adeeva, Lutesha, Livy Renata, dan Rio Dewanto yang berperan sebagai manusia maupun karakter pendukung lain dalam dunia futuristik tersebut. Para pemain menjalani proses panjang untuk beradaptasi dengan konsep fiksi ilmiah dan teknologi produksi film. Dendi Reynando menjelaskan bahwa film ini menggabungkan animasi dan live action dalam porsi yang seimbang. “Tidak bisa dibilang dia 100 persen animasi, enggak bisa juga dibilang dia 100 persen live action... itu bungkusnya ketika dijelaskan metodenya hybrid,” jelas Dendi.
Ia juga berharap film ini dapat menjadi intellectual property (IP) yang membanggakan Indonesia di masa depan. “Mimpi besar kita adalah... karakter-karakter di sini menjadi inspirasi anak-anak Indonesia,” ungkap Dendi.
4. Melibatkan Lebih dari 200 Tenaga Kreatif dan Didukung PFN
Direktur Utama PFN, Ifan Seventeen, menyebut Pelangi di Mars sebagai penanda masa depan industri film Indonesia. PFN memberikan dukungan pada tahap akhir produksi karena melihat nilai strategis dan visi besar yang dibawa film ini. “Pelangi di Mars ini beda. Ini melambangkan masa depan industri film Indonesia,” kata Ifan.
PFN terlibat dalam pendanaan, promosi, hingga distribusi tanpa bermaksud bersaing dengan rumah produksi swasta. Ifan menegaskan bahwa PFN hadir untuk memfasilitasi film-film yang mampu membawa perfilman Indonesia ke level lebih tinggi. “PH negara bukan berada di marwahnya untuk bersaing... tapi harusnya memfasilitasi dan men-support,” ujar Ifan.
Produksi film ini melibatkan lebih dari 200 tenaga kreatif dari berbagai daerah, termasuk animator, teknisi, hingga tim XR dan motion capture. Teknologi yang digunakan pun setara dengan standar produksi Hollywood seperti The Mandalorian. Ifan menilai pencapaian ini adalah bentuk keberanian Indonesia bersuara di panggung global. “Mungkin ini film pertama Indonesia yang akhirnya Indonesia jadi ‘jagoan’ di antara seluruh jagoan dunia,” lanjut Ifan.
5. Tantangan Akting Messi Gusti: Berperan di Studio XR Tanpa Lawan Main
Messi Gusti, pemeran Pelangi, menceritakan bahwa ia sudah terlibat dalam proyek ini sejak tahun 2020 ketika masih kelas 5 SD. Ia tumbuh bersama proses pembuatan film dan menghadapi tantangan besar karena teknologi XR membuatnya harus berakting tanpa lawan main atau latar nyata. “Karakter aku dan Pelangi mirip lah. Cuma mungkin pada saat syuting XR itu agak sulit... Depan aku layar hitam,” ujar Messi.
Ia harus membangun emosi sendiri meski hanya menatap ruang kosong sementara karakter lain baru akan hadir dalam bentuk animasi di tahap akhir produksi. Messi juga menjalani workshop intensif untuk mempelajari gerak tubuh yang sesuai dengan gravitasi Mars. “Karena kan ini di Mars ya, jadi harus belajar cara jalannya. Aku enggak pernah ke Mars, jadi enggak tahu jalannya kayak gimana,” kata Messi.
Meski syutingnya rumit, Messi merasa pengalaman ini sangat berharga. Dengan panduan teknis dan arahan kamera yang detail, ia bisa menyelesaikan syuting dengan baik. “Pas udah syuting, udah di lokasi, udah deh kayak enggak begitu sulit,” tutur Messi.