
Pendekatan Inovatif dalam Pembelajaran Matematika di Semarang
Di banyak sekolah, inovasi pembelajaran sering lahir dan pergi begitu saja. Banyak yang canggih di atas kertas, tetapi tidak benar-benar membawa siswa lebih dekat dengan pengalaman belajar yang nyata. Namun, di Kota Semarang, Jawa Tengah, seorang guru matematika memilih jalan berbeda.
Bavo Manon Nugroho, pengajar di SMP Negeri 7 Semarang, menemukan cara untuk membuat matematika “turun ke bumi” melalui Math City Map. Ia menawarkan pendekatan yang menjadikan ruang publik sebagai laboratorium numerasi dan literasi. Dengan memadukan teknologi, aktivitas eksplorasi luar ruang, dan konteks kehidupan sehari-hari, Math City Map menghadirkan pengalaman belajar yang lebih konkret.
Siswa tidak lagi hanya menuliskan rumus di papan tulis, tetapi bergerak, mengukur, mengamati, dan memecahkan persoalan dari bangunan dan situs kota di sekitar mereka. Metode yang awalnya ditujukan untuk pembelajaran di kelas itu bahkan kemudian berkembang pesat. Di Kota Semarang, Math City Map bahkan dikompetisikan secara massal, mempertemukan hampir seluruh SMP negeri dalam sebuah tantangan eksplorasi.
Kompetisi yang telah berjalan lima kali sejak 2021 ini mendorong siswa bekerja dalam kelompok, menyusuri rute tertentu, dan menyelesaikan soal numerasi dengan alat ukur sederhana. Mereka menghitung luas, panjang, hingga volume bangunan di setiap pos, sambil belajar membaca peta dan menavigasi lingkungan. Bavo menjelaskan bahwa dalam proses ini, aplikasi Math City Map memandu siswa menggunakan GPS, menandai lokasi tugas, serta menyediakan instruksi yang harus dilakukan.
“Siswa bisa belajar situs dan bangunan bersejarah, mengenal tempat-tempat ikonik Kota Semarang, sekaligus memperkuat numerasi dengan menghitung volume dan luas bangunan yang ada,” kata Bavo saat diwawancarai, Selasa (18/11/2025).
Pendekatan nyata semacam ini, lanjutnya, membuat matematika jauh lebih mudah dipahami. Siswa belajar bukan dari konsep abstrak, melainkan dari pengalaman langsung di lapangan—yang selama ini kerap hilang dalam pembelajaran di kelas.
Membawa Matematika ke Jalan-Jalan Kota
Math City Map kini menjadi agenda tahunan. Rute-rutenya tersebar di sejumlah titik wisata Kota Semarang mulai Kota Lama, Semarang Zoo, kawasan TBRS, hingga Jatisari. Pembelajaran disatukan dengan ruang publik. Siswa bukan hanya menghitung dan mengukur, melainkan juga mengenal situs sejarah, ruang terbuka, hingga spot kota yang sering luput dari perhatian warga.
“Sekali jalan, kami ingin efek domino. Numerasi dapat, literasi dapat, sejarah kota dapat, tempat wisatanya terangkat,” ungkap Bavo.
Program ini kemudian berkembang menjadi bagian dari gelaran Matemardika, yang memadukan semangat kemerdekaan dengan pembelajaran matematika yang merdeka dan menyenangkan.
Dari Frankfurt ke Semarang
Perjalanan Math City Map di Semarang bermula satu dekade lalu, saat Bavo mengikuti penelitian yang dipimpin dosen Universitas Negeri Semarang (Unnes), Dr.rer.nat. Adi Nur Cahyono, yang tengah menempuh studi doktoral di Goethe University Frankfurt. Saat itu, Math City Map masih berupa platform berbasis web. Berat, lambat, dan bergantung pada sinyal. Tapi Bavo melihat potensinya.
“Saya langsung merasa, wah ini hal baru, anti-mainstream,” kenangnya. Sejak itu, bersama sejumlah sekolah, Bavo terlibat memberi masukan hingga platform tersebut berkembang menjadi aplikasi mobile di Play Store yang jauh lebih ringan, cepat, dan mudah digunakan.
Yang menarik, penerapan Math City Map di Semarang ternyata melampaui ekspektasi pengembang. Jika di Frankfurt aplikasi ini hanya digunakan untuk pembelajaran kelas, di Semarang ia menjelma menjadi kompetisi besar. “Respons Frankfurt positif. Mereka terkejut melihat MCM dipakai bukan hanya di kelas, tapi juga untuk lomba umum,” kata Bavo. Dari situlah muncul gagasan menjadikan Math City Map sebagai medium rekreasi edukatif.
Ia membayangkan keluarga atau rombongan siswa berjalan-jalan ke taman kota sambil menyelesaikan tantangan numerasi.
Menjawab Lemahnya Pemahaman Kontekstual
Menurut Bavo, masalah utama siswa bukan pada kemampuan berhitung, melainkan pada memahami soal dan menerapkan konsep dalam konteks nyata. Math City Map menjembatani kesenjangan itu. Siswa harus mengukur benda nyata, membaca lingkungan, berdiskusi, dan mengambil keputusan bersama.
“Hitungnya bisa. Tapi begitu diberi soal cerita, mereka bingung. Dengan MCM, mereka harus mengaplikasikan konsep, bukan sekadar menghafal,” jelasnya. Ia mencontohkan tugas mengukur luas ruang berkeramik atau tinggi tiang bendera menggunakan prinsip kesebangunan. Aktivitas semacam ini membuat siswa bekerja seperti regu pramuka, yakni membaca peta, mencari titik lokasi, mencocokkan foto, dan berdiskusi.
Hasilnya, pembelajaran terasa seperti permainan. Pada saat yang sama, nilai-nilai kolaboratif yang ditekankan Kurikulum Merdeka ikut muncul.
Namun, ada tantangan besar: guru. Guru dituntut merancang soal kontekstual yang relevan, memilih lokasi pembelajaran yang tepat, dan memastikan tugas hanya bisa diselesaikan dengan observasi langsung. “Soal mengukur tinggi Monas itu tidak bagus. Tinggal googling. Yang bagus itu kalau siswa benar-benar harus datang ke lokasi,” tegasnya. Karena itu, penyusunan soal kontekstual menjadi keterampilan penting yang terus dilatihkan kepada para guru.
Kontribusi Math City Map Tingkatkan Numerasi
Associate Professor Pendidikan Matematika Universitas Negeri Semarang, Dr.rer.nat. Adi Nur Cahyono, M.Pd., menegaskan Math City Map (MCM) telah memberikan dampak signifikan bagi pembelajaran matematika di Kota Semarang. “Berbagai penelitian yang kami lakukan menunjukkan bahwa MCM bukan hanya memperkuat kemampuan numerasi, tetapi juga meningkatkan kualitas pembelajaran secara keseluruhan,” ujarnya, Selasa (25/11/2025). Menurut Adi, siswa yang menggunakan MCM terbiasa menghadapi situasi autentik yang menuntut pengukuran, perhitungan, hingga penalaran matematis.
“Mereka belajar bahwa matematika itu hidup dalam keseharian, bukan hanya di buku,” tambahnya. Tak hanya siswa, guru pun merasakan manfaat besar. MCM mendorong mereka lebih kreatif merancang tugas kontekstual, bahkan tak sedikit yang berhasil memenangkan kompetisi inovasi berbasis Math City Map.
“Jadi kontribusi MCM bukan hanya pada siswa, tetapi juga pada guru, sekolah, dan ekosistem pembelajaran secara keseluruhan,” tegas Adi. Adi menjelaskan sejumlah aspek numerasi yang menguat melalui MCM. Pertama, matematika dikaitkan langsung dengan dunia nyata sehingga siswa memahami penerapan konsep numerik dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, siswa terlatih memecahkan masalah lewat proses mengamati konteks, memilah informasi, memilih strategi, hingga mengambil keputusan berdasarkan penalaran.
Selain itu, MCM mendorong kolaborasi dan komunikasi matematis. “Sebagian besar tugas dikerjakan berkelompok, sehingga siswa terbiasa berdiskusi, bernegosiasi, dan menjelaskan alasan di balik jawaban mereka,” jelasnya. Hasilnya, sikap positif terhadap matematika ikut tumbuh. Siswa menyadari matematika benar-benar hadir di sekitar mereka, bukan sekadar angka di papan tulis.
Arah Pengembangan
Terkait implementasi MCM secara luas, termasuk kompetisi tingkat SMP di Semarang, Adi menyebutnya sebagai indikator keberhasilan. “Ini menunjukkan bahwa model MCM diterima luas dan manfaatnya dirasakan langsung oleh guru maupun siswa,” katanya. Ia menegaskan, keberhasilan tersebut tidak lepas dari dukungan berbagai pihak: guru mitra, MGMP, pemerintah daerah, perguruan tinggi, industri, hingga masyarakat.
Ke depan, timnya menargetkan pengembangan MCM yang lebih inklusif dan adaptif terhadap teknologi. MCM juga diharapkan hadir di ruang publik. “Kami ingin Math City Map bukan hanya digunakan di sekolah, tetapi juga untuk edukasi numerasi masyarakat, baik di taman kota, kebun binatang, tempat wisata, atau kegiatan edukatif lainnya,” jelasnya. Adi berharap MCM berkembang menjadi gerakan bersama untuk meningkatkan numerasi di berbagai lapisan masyarakat. “Tujuannya sederhana, numerasi untuk semua, di mana saja,” pungkasnya.
Dukungan Pelatihan
Seiring perkembangan program, Tanoto Foundation memberikan grant dan pelatihan bagi guru untuk meningkatkan kompetensi literasi dan numerasi. Dari sinilah Math City Map semakin dikenal dan diterapkan. Pelatihan diberikan tidak hanya untuk guru SMP, tetapi juga SD, sehingga menciptakan efek berantai.
“Yang kami inginkan, guru yang sudah bisa langsung ngajari guru lain. Bukan linear, tapi eksponensial,” kata Bavo. Materi pelatihan mencakup penyusunan soal HOTS, tugas produktif dan imajinatif, hingga proyek numerasi berbasis media inovatif. Menurut Bavo, perubahan paling terasa adalah meningkatnya kemampuan siswa menghubungkan matematika dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari menghitung volume kolam, prediksi kapasitas ikan, kemiringan ramp untuk siswa difabel, hingga memahami isu sosial dari tiap perhitungan.
“Matematika itu alat. Tapi lewat alat itu, mereka dapat wawasan lain: ekonomi, sosial, kemanusiaan,” ujarnya. Bavo berharap penggunaan MCM terus meluas. Ia melihat potensi besar menjadikan pembelajaran luar kelas sebagai budaya baru. “Target kami sederhana, guru makin banyak memakai ini, dan siswa semakin terbiasa belajar dari lingkungan. Dengan begitu, numerasi, pelajaran matematika, bahkan guru matematika bukan lagi momok,” ucap guru yang telah mengajar 35 tahun itu.
Salah satu momen paling berkesan baginya ialah ketika anak-anak justru merindukan pembelajaran matematika. “Yang paling berkesan ketika mereka menantikan pelajaran matematika yang biasanya ditakuti,” kenangnya.
Tanoto Foundation juga berperan penting dalam perjalanan inovasi ini. Yayasan ini tak hanya memberikan dukungan melalui pendanaan, melainkan juga ide-ide besar peningkatan kualitas pendidikan sejak era Kurikulum 2013 hingga Kurikulum Merdeka. “Waktu itu kami banyak diajari membuat pertanyaan imajinatif, produktif, terbuka, dan merancang soal berkualitas,” kata Bavo. Pada 2023, sekolah kembali terlibat dalam proyek inovasi literasi dan numerasi. Bavo menyebut program PINTAR memberi dampak nyata dan menimbulkan efek domino hingga berbagai aplikasi pembelajaran dapat digunakan secara lebih maksimal.
Penguatan Regulasi
Inovasi numerasi dan literasi yang dilakukan Bavo tak berdiri sendiri. Pemerintah Kota Semarang turut memperkuatnya melalui kebijakan pendidikan. Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kota Semarang, Aloysius Kristiyanto, menjelaskan bahwa pendekatan PINTAR Tanoto Foundation kini menjadi bagian dasar regulasi daerah. “Kami mengintegrasikan pendekatan PINTAR ke dalam regulasi, termasuk sebagai dasar penyusunan perwal peningkatan literasi dan numerasi,” ujarnya. Integrasi ini memberi ruang bagi sekolah untuk menerapkan pembelajaran kreatif, termasuk soal imajinatif, metode terbuka, dan asesmen kontekstual.
Tahap berikutnya adalah memastikan praktik baik itu disebarluaskan melalui fasilitator daerah dan platform Si Booky. Keberlanjutan pun dijaga lewat ruang kolaborasi antarsekolah seperti komunitas belajar Tugu Muda.
Kolaborasi untuk Nasional
Head of Learning Environment Tanoto Foundation, Margaretha Ari Widowati, menegaskan literasi dan numerasi adalah kemampuan dasar yang menentukan kualitas hidup seseorang. “Itu kunci untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat, hidup secara layak, produktif, dan bermartabat,” ujarnya. Karena itu, program PINTAR tidak hanya berbasis keyakinan, tetapi diperkuat berbagai studi dari universitas, lembaga penelitian, hingga kementerian.
Indonesia masih menghadapi tantangan literasi di tingkat global. “Populasi kita terbesar keempat di dunia, tapi belum bisa menghasilkan anak-anak dengan literasi dan numerasi yang mumpuni,” jelasnya. Program PINTAR hadir untuk menjawab tantangan tersebut melalui pendampingan, pelatihan, dan pengembangan praktik pembelajaran yang lebih efektif. Saat ini program telah menjangkau:
- 41 kabupaten/kota mitra
- 1.571 sekolah
- 28.838 pendidik
- 1.606 fasilitator guru
- 50.780 mahasiswa calon guru
- 1.083.841 siswa
Capaian tersebut menunjukkan upaya besar yang tengah dilakukan untuk memperkuat literasi, numerasi, dan kualitas pembelajaran nasional.