JAKARTA, Erfa News
Lonjakan pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor teknologi global pada 2025 bukan lagi peristiwa sporadis, melainkan tren yang berlangsung hampir sepanjang tahun. Berbagai tracker seperti Layoffs.fyi yang dikutip sejumlah media memperkirakan lebih dari 112.000 pekerja teknologi telah terdampak di 2025, hanya dari sekitar 200 sampai 218 perusahaan teknologi di seluruh dunia. Ada lebih dari 112.000 karyawan di 218 perusahaan teknologi terkena PHK sepanjang 2025. Nama-nama besar seperti Amazon, Intel, Microsoft, Salesforce, Cisco, Google, dan Meta berada di daftar teratas.
Sementara itu, menurut Business Today, sekitar 110.000 pekerjaan teknologi hilang pada 2025 ketika perusahaan “merestrukturisasi” untuk ekonomi yang semakin berpusat pada kecerdasan buatan (AI). Amerika Serikat (AS), data Challenger, Gray & Christmas yang dikutip Reuters menunjukkan bahwa hingga Oktober 2025, total pengumuman PHK dari semua sektor mendekati 1,1 juta, tertinggi sejak 2020. Sektor teknologi termasuk di antara yang paling banyak memangkas tenaga kerja. Gelombang PHK ini juga semakin dikaitkan secara eksplisit dengan adopsi AI.
Laporan Los Angeles Times yang mengutip data firma outplacement Challenger menyebutkan, perusahaan menuliskan AI sebagai alasan langsung untuk 48.414 PHK di AS sepanjang 2025, dengan lebih dari 31.000 di antaranya diumumkan pada bulan Oktober 2025 saja.
Penyebab gelombang PHK di perusahaan teknologi global pada 2025
Berikut ini beberapa faktor utama mengenai penyebab gelombang PHK di perusahaan teknologi global pada 2025 dan kemungkinan arah pergerakannya ke depan.
1. Koreksi setelah "ledakan rekrutmen" di masa pandemi
Sejumlah laporan menilai bahwa gelombang PHK teknologi 2025 tidak bisa dilepaskan dari pola rekrutmen agresif pada 2020-2022, ketika pandemi mendorong lonjakan penggunaan layanan digital. InformationWeek, dalam laporan panjang tentang "Covid tech bubble", menyebut bahwa ketika pandemi membuat orang bekerja, belajar, dan berbelanja dari rumah, perusahaan teknologi merekrut besar-besaran. Namun, memasuki 2024-2025, situasi berbalik. Ketika pertumbuhan melambat, raksasa-raksasa teknologi memangkas ribuan pekerja dan pasar memasuki fase "Covid tech bust".
Reuters sebelumnya juga menyoroti bahwa banyak raksasa teknologi sekarang bergulat dengan over-hiring sejak pertengahan 2020, kenaikan suku bunga, dan perubahan perilaku bisnis dan konsumen, sehingga berujung pada pemangkasan tenaga kerja yang dalam. Built In, situs yang melacak tren karier teknologi di AS, merangkum bahwa PHK teknologi 2025 berasal dari koreksi pasca-pandemi, pergeseran anggaran yang digerakkan AI, realignment keterampilan, dan tekanan ekonomi. Dengan kata lain, beberapa perusahaan menilai ukuran organisasi mereka tidak lagi cocok dengan laju pertumbuhan yang lebih moderat.
Andy Challenger, pakar tempat kerja di Challenger, Gray & Christmas, dikutip Reuters, mengatakan bahwa sebagian industri sedang melakukan koreksi setelah ledakan perekrutan di masa pandemi, di tengah adopsi AI, pelemahan belanja konsumen dan korporasi, serta kenaikan biaya yang mendorong pengetatan anggaran.
2. Otomatisasi dan restrukturisasi berbasis AI
Jika 2023 sering disebut sebagai tahunnya efisiensi, maka 2025 ditandai oleh gelombang restrukturisasi yang secara eksplisit dikaitkan dengan AI. Los Angeles Times, merujuk data Challenger, mencatat bahwa perusahaan telah menyebut AI sebagai alasan untuk hampir 50.000 PHK di AS pada 2025. Dalam laporan yang sama, CEO ServiceNow Bill McDermott menggambarkan daya tarik AI bagi perusahaan dengan kalimat tajam. "AI tidak perlu makan siang dan tidak punya tunjangan kesehatan," tutur McDermott.
Beberapa contoh perusahaan global yang PHK karyawan adalah sebagai berikut.
- Amazon
Reuters melaporkan bahwa Amazon tengah menyiapkan PHK hingga 30.000 karyawan korporat, salah satu pemangkasan terbesar di era pasca-ChatGPT, sebagai bagian dari pergeseran ke investasi AI dan cloud. Dalam memo internal, CEO Andy Jassy menulis bahwa perseroan akan membutuhkan lebih sedikit orang untuk beberapa pekerjaan yang dikerjakan hari ini, dan lebih banyak orang untuk jenis pekerjaan lain. Dalam beberapa tahun ke depan, imbuh Jassy, hal ini akan mengurangi total tenaga kerja korporat seiring perusahaan mendapatkan efisiensi dari penggunaan AI di seluruh operasional.
- Microsoft, Google, dan Meta
Tahun 2025 menyaksikan pemangkasan besar di Microsoft (sekitar 9.000 pekerjaan), Intel (24.000), Salesforce, dan Cisco, yang seluruhnya dikaitkan dengan restrukturisasi terkait AI dan kebutuhan mengalihkan sumber daya ke cloud, keamanan siber, dan layanan berbasis AI. Cisco, Google, Meta, dan Oracle melakukan PHK sambil mengalihkan belanja ke layanan cloud dan infrastruktur AI, termasuk pemangkasan ratusan hingga ribuan pekerja di berbagai divisi.
Organisasi internasional juga mulai mencatat fenomena ini. OECD, dalam basis data insiden terkait AI, menyusun entri soal PHK terkait AI membuat sekitar 100.000 pekerja terdampak di seluruh dunia pada tahun 2025. OECD menekankan bahwa PHK tersebut secara eksplisit dikaitkan dengan restrukturisasi yang dipimpin AI dan otomatisasi.
3. Tekanan profitabilitas, suku bunga tinggi, dan perlambatan permintaan
Selain AI, faktor makroekonomi juga banyak disebut sebagai pendorong PHK. Challenger, Gray & Christmas menyatakan bahwa lonjakan PHK pada Oktober 2025, yang menembus 153.074 pemangkasan pekerjaan dan menjadi Oktober terburuk dalam lebih dari dua dekade, didominasi oleh alasan pemangkasan biaya dan AI, serta tekanan dari belanja konsumen dan korporasi yang melemah. Built In menulis bahwa dalam lingkungan suku bunga yang lebih tinggi, biaya pinjaman menjadi lebih mahal, memperlambat rencana ekspansi dan memaksa perusahaan lebih kreatif dalam mendapatkan produktivitas dari tenaga kerja, bahkan jika itu berarti PHK.
Yang disoroti pula, tekanan investor agar perusahaan teknologi yang selama ini dibolehkan tumbuh dengan biaya berapa pun mulai menunjukkan jalur laba yang lebih jelas. Banyak perusahaan menginvestasikan banyak uang dalam alat AI generatif dan infrastruktur cloud, tetapi investasi itu sering datang dengan mengorbankan peran-peran tradisional.
4. Perubahan kebutuhan keterampilan dan mismatch di tenaga kerja
PHK tidak sekadar mengurangi jumlah pekerja, tetapi juga mencerminkan pergeseran jenis keterampilan yang dibutuhkan. Microsoft, Google, Amazon, dan CrowdStrike menggunakan PHK 2025 untuk merapikan struktur kepemimpinan dan memprioritaskan peran rekayasa (engineering), sementara sejumlah fungsi penunjang, penjualan, dan manajemen menengah dikurangi. Dalam memo Amazon Jassy mengatakan bahwa rollout AI generatif mengubah cara kerja di perusahaan, mulai dari optimasi inventori hingga chatbot layanan pelanggan. Pesan Jassy serupa dengan yang disampaikan perusahaan teknologi lain: produktivitas yang meningkat karena AI berarti kebutuhan untuk merekrut akan berkurang dari waktu ke waktu, terutama di area yang dapat diotomatisasi.
Di AS, laporan Los Angeles Times tentang PHK LinkedIn menggambarkan bahwa insinyur perangkat lunak di Bay Area terkena dampak cukup besar, sementara perusahaan tetap membuka lowongan di area yang dianggap prioritas.
5. Restrukturisasi perusahaan: tim lebih ramping, lebih tangguh
Di level perusahaan, narasi resmi yang muncul dari eksekutif kerap menekankan "efisiensi" dan "fokus strategis". Business Today mencatat bahwa Meta memangkas sekitar 600 pekerja di divisi AI dengan tujuan membentuk tim-tim yang disebut sebagai lebih kecil dan lebih 'load-bearing'. Meta mengurangi karyawan sekaligus tetap menambah tenaga baru di area yang dianggap prioritas, sehingga total jumlah pegawai perusahaan ini masih meningkat secara tahunan pada pertengahan 2025.
Di sektor lain yang juga banyak menggunakan teknologi dan otomatisasi. Perusahaan logistik United Parcel Service (UPS) mengumumkan pemangkasan 48.000. Sementara itu, Ford memangkas hingga 13.000 pekerjaan untuk mempercepat transisi ke kendaraan listrik. Walaupun bukan murni perusahaan teknologi, kedua contoh ini sering dimasukkan dalam statistik PHK di sektor teknologi karena terkait otomatisasi, logistik digital, dan transformasi model bisnis.
Sejauh mana gelombang PHK ini akan berlanjut?
Sejumlah laporan mencoba membaca ke mana arah tren ini bergerak setelah 2025, terutama di sektor teknologi. Challenger, Gray & Christmas mencatat bahwa jumlah PHK di AS sepanjang 2025 telah menembus lebih dari 1 juta dan menjadi yang tertinggi sejak 2020, sementara rencana perekrutan baru berada di titik terendah sejak 2011. Lembaga itu menilai bahwa kombinasi koreksi pasca-pandemi, adopsi AI, pelemahan daya beli, dan kenaikan biaya mendorong perusahaan menahan rekrutmen dan memperbanyak efisiensi.
Di sisi teknologi, mulai dari 100.000 hingga di atas 180.000 pekerja teknologi global yang terdampak sepanjang 2025, namun arah gerakannya sama: pemangkasan tetap tinggi, meski secara bulanan sudah mulai turun dibanding puncaknya di awal 2023. Berbeda dengan krisis sebelumnya, gelombang PHK kali ini tidak sepenuhnya didorong oleh keruntuhan finansial atau crash pasar, melainkan oleh perlambatan pendapatan, ketidakpastian ekonomi, dan implementasi AI yang cepat dalam operasi inti bisnis.
Pun banyak perusahaan menyebut ekspansi berlebihan selama pandemi dan kebutuhan restrukturisasi untuk ekonomi teknologi baru” sebagai alasan di balik PHK massal. OECD menyebut, gelombang PHK terkait AI di 2025 sebagai contoh dampak signifikan AI terhadap pasar tenaga kerja dan menunjukkan bahwa sejumlah perusahaan secara eksplisit menghubungkan otomatisasi dan restrukturisasi berbasis AI dengan keputusan pengurangan tenaga kerja. Sementara itu, Built In menggambarkan fase ini sebagai reset, bukan kehancuran, di mana perusahaan melakukan koreksi atas rekrutmen era pandemi, mengalihkan anggaran ke AI, dan menyesuaikan diri dengan realitas inflasi dan suku bunga.
Manajemen Amazon menggambarkan bahwa dalam beberapa tahun ke depan jumlah pekerja mungkin turun di area tertentu tetapi naik di area lain yang berkaitan dengan pengembangan dan pengelolaan teknologi baru. Dengan demikian, gelombang PHK teknologi 2025 umumnya berkisar pada tiga benang merah, yakni koreksi setelah masa "over-hiring" pandemi, restrukturisasi besar-besaran untuk mengalihkan anggaran ke AI dan teknologi baru, serta tekanan makroekonomi dan investor yang menuntut profitabilitas lebih cepat.