Pasukan Rusia Menggila: Rebut Dua Desa Lagi di Ukraina Selatan, Kepung Kota Penting Timur

Erlita Irmania
0

Pasukan Rusia Memperluas Wilayah Kontrol di Ukraina

Pada hari Minggu (16/11/2025), pasukan Rusia mengklaim telah merebut dua desa tambahan di wilayah selatan Ukraina. Dua desa tersebut adalah Rivnopillia dan Mala Tokmachka, yang terletak di wilayah Zaporizhzhia. Klaim ini disampaikan melalui platform perpesanan Telegram oleh Kementerian Pertahanan Rusia.

Wilayah selatan Ukraina menjadi fokus pergerakan pasukan Rusia dalam beberapa bulan terakhir, meskipun garis depan pertempuran di sana tidak seaktif di wilayah timur. Namun, pasukan Rusia yang lebih besar dan lengkap terus bergerak maju, memperkuat posisi mereka di kedua wilayah tersebut.

Di sisi lain, pertempuran di wilayah timur fokus pada kendali atas kota Pokrovsk, yang merupakan pusat logistik utama. Puluhan tentara Rusia telah menyusup ke wilayah ini dalam beberapa minggu terakhir, melemahkan pertahanan Ukraina. Meski begitu, pembicaraan damai antara Kiev dan Moskow saat ini masih terkendala, dan rencana pertemuan puncak Budapest antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin tidak terlaksana.

Peran Penting Kota Pokrovsk

Pokrovsk, yang dulunya memiliki populasi sekitar 60.000 orang, telah bertahan dari serangan intensif pasukan Rusia selama lebih dari satu setengah tahun. Jika kota ini jatuh, maka pasukan Rusia akan dapat melanjutkan perjalanan ke utara menuju kota-kota besar Ukraina dan memperkuat kontrol atas wilayah Donetsk, yang telah dianeksasi sejak September 2022.

Menurut peta yang dirilis oleh kelompok pemantau Ukraina, DeepState, pasukan Rusia terus bergerak dari arah utara, timur, dan selatan, menciptakan kesan pengepungan sebagian. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan bahwa posisi rezim Kiev semakin memburuk dari hari ke hari.

Ukraina bersikeras bahwa klaim Rusia tentang pengepungan Pokrovsk adalah bagian dari kampanye informasi untuk menekan sekutu Barat agar memaksa perjanjian damai dengan Moskow. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan bahwa pasukan Ukraina tidak diminta untuk "mati demi reruntuhan," menunjukkan bahwa komandan memiliki keleluasaan dalam membuat keputusan berdasarkan situasi di lapangan.

Pertempuran di Pokrovsk yang Kritis

Pertempuran sengit terus berlangsung di kota Pokrovsk, yang dulunya dihuni sekitar 60.000 orang. Kota ini telah bertahan dari serangan tanpa henti selama lebih dari satu setengah tahun. Saat ini, pertempuran memasuki fase kritis.

Analis militer Barat mengatakan pasukan Rusia terus menerus memasuki pinggiran selatan Pokrovsk, melemahkan pertahanan Ukraina. Cuaca buruk menjelang akhir musim gugur juga membantu pasukan Rusia dalam memindahkan pasukan dan peralatan lebih dekat ke garis depan.

Artem, seorang operator drone Ukraina yang bertempur di dekat Pokrovsk, mengatakan bahwa masalah utama adalah logistik. Jalanan benar-benar macet akibat serangan drone Rusia, sehingga sulit bagi kendaraan untuk masuk atau meninggalkan kota tanpa terdeteksi.

Meskipun dalam kondisi seperti ini, formasi Ukraina, termasuk brigade ke-25, ke-7, dan ke-68, masih menguasai sebagian Pokrovsk dan Myrnohrad, sebuah kota kecil sekitar tujuh kilometer ke arah timur.

Kekacauan dan Ancaman Penyerbuan

Seperti Bakhmut sebelumnya, Pokrovsk menjadi simbol perlawanan Ukraina. Kota ini menjadi salah satu kota besar terakhir di Donetsk selatan yang harus direbut Rusia sebelum mereka mencoba menyerang kota Druzhkivka, Kramatorsk, dan Sloviansk.

Presiden Vladimir Putin mengklaim bahwa Pokrovsk telah dikepung, tetapi pernyataan ini dibantah oleh jenderal tertinggi Ukraina, Oleksandr Syrskyi. Ia menyatakan bahwa pasukan Ukraina "harus menahan tekanan dari kelompok musuh yang terdiri dari beberapa ribu orang."

Namun, Syrskyi menegaskan bahwa tidak ada pengepungan maupun blokade terhadap kota tersebut. Presiden Zelensky juga menggemakan peringatan ini, dengan menyatakan bahwa tujuan utama militer Rusia adalah menduduki Pokrovsk secepat mungkin.

Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?

Artem yakin bahwa Ukraina telah mencapai tujuan utamanya di Pokrovsk: memaksa Rusia mengerahkan pasukan dan sumber daya ke dalam pertempuran selama lebih dari setahun, yang secara signifikan melemahkan kekuatannya. Namun, ia tidak menemukan alasan untuk merayakannya.

Menurut analis Michael Kofman, situasi saat ini masih lebih menguntungkan bagi Ukraina daripada pertempuran di sekitar Avdiivka pada tahun 2024. Pasukan Rusia kehilangan momentum setelah serangan ofensif yang menguras sebagian besar kekuatan tempur mereka.

Jika Pokrovsk jatuh, pasukan Rusia dapat menggunakan kota ini sebagai pangkalan terdepan untuk mendorong unit Ukraina lebih jauh ke barat. Sébastien Gobert, seorang jurnalis Prancis, menyatakan bahwa Pokrovsk kemungkinan besar telah hilang, dan sekarang pertanyaannya adalah bagaimana mempersiapkan diri untuk serangan besar berikutnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default