
Perjalanan CEO Trans Continent dalam Proyek Pabrik Semen Laweung
CEO Trans Continent, Ismail Rasyid, ternyata pernah terlibat dalam proyek pembangunan pabrik semen Laweung. Ia berperan sebagai rekanan logistik dalam proyek tersebut. Namun, kontraknya tiba-tiba diputus tanpa pemberitahuan, sehingga ia mengalami kerugian material dan waktu. Akhirnya, Ismail memilih mundur untuk menghindari konflik. Kisah ini diungkapkannya dalam wawancara eksklusif yang disampaikan selama kunjungan ke China beberapa waktu lalu.
Tujuan Perjalanan ke China
Ismail berangkat ke China bersama tim pada tanggal 14 Oktober 2025 dan tinggal hampir seminggu. Tujuan utamanya adalah menghadiri undangan dari Sunny Corporation khusus untuk Sunny Marine, sebagai manufaktur alat-alat pelabuhan. Ia diundang sebagai salah satu customer mereka. Di Suhai, China, terdapat event peluncuran produk baru sekaligus penghargaan bagi customer premium.
Ismail sudah membeli sekitar 10 unit alat berat dari mereka, termasuk short crane kapasitas 80 ton dan sebagainya. Ia telah menjadi customer mereka selama lebih kurang 10 tahun. Komunikasi dengan mereka sangat baik, mulai dari proses jual beli maupun maintenance. Yang diundang ini merupakan customer yang rutin belanja dengan mereka, komunikasi bagus, pembayarannya bagus, dan Ismail juga memberikan masukan serta lainnya. Hal-hal seperti ini sangat penting bagi mereka.
Pengalaman dalam Proyek Pabrik Semen Laweung
Ismail ingat persis tahunnya, sekitar tahun 2017, saat Muzakir Manaf masih menjadi Wakil Gubernur Aceh. Ia merasa bahwa hal ini akan nyambung, apalagi Mualem kini sudah menjadi Gubernur Aceh. Dia pasti paham proses pembangunan itu.
Tender proyek dibuka secara nasional melalui media cetak nasional. Ismail mengikuti seluruh prosedur yang berlaku, karena ia sendiri tidak memiliki banyak koneksi orang dalam. Setelah melalui proses negosiasi sesuai aturan, ia berhasil memenangkan tender.
Target utama saat itu adalah menyelesaikan pengiriman material untuk mendukung acara groundbreaking oleh Presiden Joko Widodo. Tenggat waktu yang diberikan sangat ketat, hanya satu setengah bulan. Pipa baja untuk kebutuhan piling (tiang pancang) pelabuhan pabrik harus segera dikirim dari Gresik ke Laweung melalui jalur darat.
Situasi politik di Aceh saat itu tidak stabil, bahkan sempat terjadi pembakaran alat berat. Namun, Ismail tetap optimis karena memiliki banyak rekan di lapangan. Setelah melakukan survei dan penawaran, ia mendapatkan pekerjaan tersebut. Meski menghadapi tantangan di lapangan, salah satunya adalah kondisi jembatan di Sungai Krueng Mane yang miring dan tidak bisa dilalui, sehingga ia terpaksa memutar lewat jembatan darurat yang dibangun pemerintah, tetapi pekerjaan berhasil diselesaikan tepat waktu.
Kesulitan dan Keputusan yang Diambil
Paket utama senilai beberapa miliar rupiah rampung dengan baik. Pipa sebanyak tujuh trailer berhasil ia angkut dari Gresik, melintasi Trans Jawa, menyeberang ke Sumatra, dan tiba di Laweung. Semua assessment telah ia lakukan secara menyeluruh, dan administrasi serta pembayaran dari pihak perusahaan juga selesai. Kedua belah pihak puas.
Tahap berikutnya adalah pengangkutan material yang lebih besar menggunakan tronton atau kapal tongkang melalui laut untuk proses pemancangan dermaga. Setelah diumumkan bahwa ia kembali memenangkan paket tersebut, ia tengah mengurus dokumen dan berangkat ke Meksiko untuk menghadiri pertemuan. Perjalanan berlanjut ke Amerika Serikat dan Kanada selama dua minggu.
Saat ia di luar negeri, ia mendapat kabar dari tim bahwa proyek tersebut tiba-tiba dialihkan ke kontraktor lain. Padahal ia sudah melalui proses panjang dan mengeluarkan biaya untuk assessment dan lain-lain. Sekembali ke Indonesia, ia bertemu dengan Presiden Direktur perusahaan, Pak Bahar, untuk meminta klarifikasi. Ia tidak menerima keputusan tersebut karena kontrak sudah diumumkan dan ia dinyatakan menang, namun diputus tanpa pemberitahuan.
Penyebab Terhentinya Proyek
Ismail sempat ke lokasi beberapa kali, termasuk saat pembongkaran barang ia hadir ke sana. Yang serius terjadi adalah konflik kepemilikan lahan. Waktu itu belum selesai sepertinya musyawarah antara yang punya projek. Mereka ada konsorsium dari Semen Indonesia dengan Semen Laweung. Dari Semen Laweung terdapat lahan yang dibaliknya masih ada lagi lahan masyarakat, yang menurut penjelasan saat itu masih dalam proses negosiasi.
Harapan Masyarakat dan Solusi yang Ditawarkan
Menurut Ismail, sangat rasional jika Pak Gubernur Mualem menginginkan pabrik ini diaktifkan kembali. Namun, untuk mewujudkannya, perlu ada pertemuan antara semua pihak terkait guna mencari solusi terbaik. Hal ini penting agar investasi yang telah berjalan tidak gagal dan justru dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, daerah, dan secara nasional.
Saat ini, kebutuhan semen di Indonesia sangat besar, bahkan produk semen dari luar negeri seperti China sudah masuk ke pasar domestik. Dalam konteks ini, Semen Indonesia telah melakukan investasi signifikan di proyek tersebut, termasuk penyertaan saham dari pihak lokal. Karena itu, Ismail pikir sudah saatnya semua pihak duduk bersama untuk mendiskusikan kelanjutan proyek ini secara menyeluruh dan strategis.
Perspektif tentang Investasi dan Pemilik Lahan
Menurut Ismail, pengambilalihan oleh pihak luar, termasuk perusahaan China, tidak bisa dilakukan begitu saja. Secara legal, Semen Indonesia masih memegang peran dominan dalam proyek ini. Karena itu, jika pemerintah ingin menyelesaikan persoalan ini, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mempertemukan Semen Indonesia dengan Pemerintah Aceh untuk membahas secara menyeluruh struktur kepemilikan saham.
Pihak lokal dan masyarakat juga perlu dilibatkan dalam forum tersebut agar tercipta kesepahaman bersama. Setelah ada kejelasan mengenai kepemilikan dan tanggung jawab masing-masing pihak, barulah terbuka ruang bagi investor mana pun untuk masuk. Artinya, fondasi hukumnya harus jelas terlebih dahulu, baru kemudian pemerintah bisa mengambil alih atau membuka peluang investasi baru.
Solusi dan Harapan untuk Masa Depan
Ada beberapa opsi yang bisa dipertimbangkan: Pemerintah Provinsi Aceh dapat menyertakan saham melalui BUMD seperti PEMA, Semen Indonesia bisa melakukan take over penuh, atau investor lokal dapat membeli kembali nilai investasi yang telah dikeluarkan oleh Semen Indonesia. Setelah itu, barulah proyek ini bisa dibuka secara bebas untuk pihak lain. Namun, jika investor masuk tanpa penyelesaian awal yang tuntas, justru akan memicu konflik baru.
Menurut Ismail, ada dua modal utama dalam proyek semen. Pertama legalitas dan kedua lahan. Baru setelah itu menyusul investasi dalam bentuk lainnya. Lahan adalah bahan baku utama dalam industri semen. Jika persoalan lahan belum selesai, maka pembicaraan soal investasi menjadi tidak relevan. Investasi membutuhkan kepastian hukum dan kejelasan status lahan agar pelaksanaan di lapangan tidak menimbulkan konflik, baik di lingkar tambang maupun kawasan industri.
Isu-isu yang berkaitan dengan komunitas dan lingkungan juga harus menjadi perhatian utama. Jika hal-hal mendasar ini tidak diselesaikan, sebesar apa pun nilai investasinya, proyek tidak akan berjalan dengan nyaman dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Pandangan DEA dan Harapan kepada Masyarakat
Sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Ekonomi Aceh (DEA), Ismail menyatakan bahwa persoalan ini perlu dipelajari secara mendalam terlebih dahulu. Ia akan membahasnya dalam tim untuk merumuskan solusi yang paling tepat dan ideal. Jika diperlukan, ia akan melakukan komunikasi dengan pihak-pihak terkait, khususnya Semen Indonesia dan unsur legal dari pemerintah daerah.
Setelah itu, ia akan menyusun rekomendasi dan berdiskusi untuk disampaikan kepada Pak Gubernur sebagai bahan pertimbangan kebijakan. Sebagai pelaku bisnis, ia melihat opsi ini sangat mungkin untuk dijalankan ke depan, tentu dengan pendekatan yang konstruktif dan kolaboratif.
Ismail berharap masyarakat sekitar dapat diberdayakan. Ia mengingatkan bahwa sosialisasi dengan masyarakat di lingkar tambang sangat penting. Mereka harus diberikan pengertian, pemahaman, dan kesempatan untuk berpartisipasi di lingkungan tersebut. Khususnya anak-anak muda yang selama ini belum ada kegiatan. Sesuai dengan kapasitasnya harus diberdayakan. Mereka harus dilatih untuk diberikan kesempatan, sehingga mereka ini akan menjadi benteng agar projek itu berjalan dengan baik.
Disamping itu, isu lingkungan juga harus diperhatikan. Kadang-kadang tambang ini ada juga sebagian yang bandel. Asal mereka menghasilkan banyak, tapi meminimumkan cost yang keluar. Dan ini perlu pemerintah, masyarakat dan pemuka agama untuk bisa mengkomunikasikan ini. Sehingga win-win itu muncul. Karena tidak ada pembangunan yang tidak mengorbankan lingkungan. Tidak ada pembangunan yang statis, semua ada pengorbanan. Tapi pengorbanan ini harus kita imbangi dengan recovery, cost sosial, benefit ke masyarakat. Persoalan di lingkungan tambang itu harus kita selesaikan.