
Kehidupan yang Terancam Akibat Banjir Bandang di Hutanabolon
Banjir bandang yang terjadi di Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah pada Selasa (25/11/2025) menimbulkan duka mendalam bagi warga setempat. Bencana ini menghancurkan sebagian besar pemukiman dan memaksa banyak warga untuk mencari tempat aman. Salah satu korban yang mengalami perjuangan berat adalah Ibu Mistera, yang harus menyelamatkan bayinya yang masih berusia 8 bulan saat banjir melanda.
Perjuangan Mistera Saat Banjir
Saat banjir terjadi, anaknya sedang sakit dengan gejala demam, muntah, dan mencret. Awalnya, keluarga Mistera berniat pergi ke dokter, tetapi hujan deras menghambat rencana mereka. Air mulai naik dan masuk ke dalam rumah, membuat mereka panik. Mereka membawa bayi ke rumah orang tua yang tidak jauh dari sana. Namun, air terus meningkat dan membawa kayu serta batu besar yang mengancam keamanan.
Mistera dan suaminya kembali ke rumah untuk mengambil perlengkapan bayi. Setelah itu, mereka memutuskan untuk melarikan diri ke hutan karena khawatir akan longsoran tanah. Selama perjalanan, bayi digendong tanpa payung dan pakaian basah. Bibir sang bayi sudah hitam, dan kondisi kesehatannya semakin memburuk.
Pengungsian di Masjid
Setelah beberapa jam di hutan, mereka kembali ke masjid yang tinggi dan relatif aman. Di sana, mereka bertahan selama satu hari sambil mengganti pakaian dan popok anaknya. Namun, saat ingin memberi ASI, asinya tidak keluar. Hal ini memperparah kekhawatiran mereka.
Esok harinya, mereka mendengar tentang posko pengungsian yang berjarak 3 km dari rumah. Mereka berusaha menuju posko tersebut meskipun jalan masih banjir. Anaknya tetap lemas dan tidak kunjung pulih. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menerjang banjir dan membawa anaknya ke rumah sakit di Pandan, yang memakan waktu dua jam perjalanan.
Kekurangan Peralatan Bayi
Di rumah sakit, anaknya diberi obat, tetapi tidak ada efek signifikan. Setelah berobat, Mistera merasa khawatir karena popok bayinya habis. Ia dan suami mencoba mencari popok di Gor, tetapi hanya bisa mendapatkan 4 buah untuk bayinya. Popok yang tersisa hanya cukup untuk dua hari, sehingga anaknya harus menggunakan baju kering yang dicuci di air banjir selama empat hari.
Kebutuhan Masyarakat
Selama bencana, banyak warga yang kehilangan rumah dan sawah mereka. Mereka membutuhkan bantuan makanan, pakaian, dan popok bayi. Mistera berharap agar wilayah ini dapat diperbaiki dan aliran sungai diperbaiki agar banjir tidak terulang.
Korban Jiwa dan Kerusakan
Babinsa Kecamatan Tukka, Koptu Holmes Padang, menyebutkan bahwa sebanyak 20 orang meninggal dunia di Kelurahan Hutanabolon. Dari jumlah tersebut, 9 korban sudah ditemukan, sementara 11 lainnya masih hilang. Total rumah yang rusak berat mencapai 301 unit, dengan 54 rumah rusak sedang dan 66 rumah rusak ringan.