
Kehidupan Pengemudi Ojek Pangkalan di Stasiun Gondangdia
Hujan gerimis yang turun sejak pagi membuat area Pintu Utama Stasiun Gondangdia tampak lebih ramai dari biasanya. Penumpang KRL yang baru turun bergegas mencari tempat teduh sambil memastikan moda transportasi lanjutan untuk melanjutkan perjalanan. Suasana basah, licin, dan padat itu justru menjadi “momen emas” bagi sekelompok orang yang menggantungkan hidup di sini, yaitu pengemudi ojek pangkalan (opang).
Di sisi kanan pintu keluar stasiun, barisan pengemudi opang berjajar rapi, motor mereka diparkir miring menghadap jalan. Di tengah derasnya arus penumpang, para opang dengan topi, jaket lusuh, dan jas hujan setengah badan tampak sigap memanggil calon penumpang. “Ojek, Mas! Ojek, Mbak! Deket aja, langsung jalan!” teriak mereka berulang kali setiap gerbong baru membuang penumpang ke luar stasiun.
Tepat di antara teriakan itu berdiri Teguh (42), pengemudi opang yang sudah hampir satu dekade lebih mangkal di Gondangdia. Sambil mengusap helm yang basah, ia tersenyum menyapa seorang penumpang yang tampak kebingungan. “Kalau hujan begini biasanya lumayan ramai, Mbak. Banyak yang enggak mau nunggu,” katanya kepada Erfa News, Selasa (18/11/2025).
Sekitar 15–20 meter dari pos Opang berdiri gerombolan pengemudi ojek online (ojol). Mereka duduk rapi di shelter yang disediakan sebagai area khusus menunggu pesanan. Meski berdekatan, kedua kelompok ini tampak hidup di zona masing-masing. Para ojol jarang masuk ke pintu stasiun, sementara opang tetap menjadi pihak pertama yang “berhadapan” dengan penumpang baru turun dari kereta.
Realitas Pendapatan Opang
Di bawah hujan gerimis, Teguh, pria berlogat Jawa asal Klaten, menceritakan rutinitasnya. “Saya berangkat dari kontrakan jam 6 pagi. Anak sudah besar-besar, jadi saya tinggal kerja saja. Biasanya mangkal sampai jam 17.00 sore,” tuturnya. Sudah 12 tahun menjadi opang, Teguh mengandalkan cuaca dan kegiatan kantor di sekitar Gondangdia untuk penghasilan.
“Kalau ramai bisa Rp 150.000 – Rp 200.000. Tapi kalau sepi… ya Rp 100.000-an, kadang kurang. Namanya juga opang, kalah sama online,” kata dia. Hasan (39), pengemudi asal Tegal, merasakan hal serupa. Dulu ia bekerja sebagai kuli bangunan sebelum bergabung ke pangkalan. “Sekarang enggak stabil. Kadang cuma Rp 80.000 sehari,” ujarnya.
Begitu pula Jali (46), yang sudah sembilan tahun mangkal di Juanda. Dulu, sebelum era ojol, pendapatannya bisa mencapai Rp 250.000 sehari. “Sekarang paling Rp 100.000-an,” katanya. Beberapa dari mereka pernah mencoba menjadi ojol, seperti Santo (33), yang pada 2016–2018 sempat mendapat penghasilan stabil. Namun, skema bonus berubah dan jumlah driver bertambah, membuat pendapatannya merosot drastis.
“Dari pagi sampai malam dapat Rp 60.000–Rp 80.000. Saya stres. HP harus bagus, rebutan order, aplikasi error capek saya,” katanya. “Di sini sehari bisa Rp 120.000–Rp 170.000. Enggak harus muter jauh,” lanjut Santo. Moto para opang tampak seragam, rezeki mungkin tak besar, tapi cukup untuk hidup dan, yang terpenting, bisa dijalani tanpa tekanan aplikasi.
Alasan Tidak Beralih ke Ojol
Banyak yang bertanya mengapa Opang tidak beralih ke ojol. Alasannya beragam dan tak selalu soal uang. Teguh pernah mencoba sistem online selama dua minggu pada 2019. “Aplikasinya muter-muter, saya disuruh ke Kuningan, Cawang, ke mana-mana. Badan sudah enggak kuat,” katanya. Jali punya alasan berbeda. Ia harus dekat rumah untuk memantau orang tuanya yang sakit.
“Kalau ojol kan kami enggak tahu dibawa order ke mana,” ucapnya. Sementara Rahmat (48), opang di Pasar Senen, menghadapi kendala paling mendasar. “Waduh… HP saja masih susah. Ada yang nawarin daftar, tapi saya tidak ngerti aplikasi,” ujarnya sambil tertawa. Bagi sebagian opang, sistem online bukan sekadar teknologi, tetapi ritme hidup. Mereka terbiasa bekerja tanpa target, tanpa algoritma yang memaksa mengejar order.
Randi (29), opang termuda yang ditemui Erfa News, pernah daftar ojol tetapi tidak berhasil mendapat order karena HP-nya lemot. “Jadi, ya percuma. Di pangkalan lebih jelas,” ujarnya. Opang bukan hanya mata pencarian, tetapi juga lingkungan sosial, komunitas kecil yang memberi rasa aman. “Di sini saya punya teman, kalau ada apa-apa saling bantu,” kata Santo.
Persaingan Lapangan dan Wilayah
Meski tampak tenang, persaingan antara Opang dan ojol bukan tanpa gesekan. “Kadang kami lagi dapat penumpang, ojol lewat langsung nyamber,” keluh Teguh. Jali merasakan hal sama. Titik-titik turunan stasiun Juanda sering menjadi rebutan. “Pernah juga kami ditegur petugas karena dianggap mengganggu. Jadi harus pintar-pintar cari posisi,” ujarnya. Randi, yang mangkal di sekitar Senen, kerap mengalami masalah soal “hak teritori.”
“Kadang ada ojol atau yang biasa mangkal di area lain tiba-tiba masuk. Kami disuruh pindah. Tapi kalau pindah jauh, penumpang jadi susah nyari,” katanya. Secara umum, kondisi di Gondangdia saat ini terbilang stabil. Opang dan ojol “berdamai” di tempat masing-masing, meski tanpa aturan resmi pemerintah. Salah satu faktor adalah kehadiran penumpang setia yang memang lebih memilih Opang.
Penumpang Setia
Bambang (45), pekerja kantoran yang hampir setiap hari menggunakan opang, menjelaskan alasannya. “Kalau di Gondangdia, saya lebih sering pakai opang. Pertama karena cepat. Turun stasiun langsung ada mereka,” ujarnya. Menurut dia, hal lain yang membuat dia bertahan adalah dorongan moral. “Saya pikir ini soal berbagi rezeki juga. Mereka sudah lama mangkal di situ. Kalau semua pindah ke online, yang begini nanti tinggal cerita,” kata Bambang.
Nurhayati (59), pedagang yang biasa ke Pasar Senen, menambahkan alasan lain, yaitu karena ia tidak melek teknologi. “Saya enggak bisa pakai aplikasi-aplikasi itu. Gojek, online saya enggak ngerti,” katanya. Ia pernah mencoba ojol satu kali, dibantu penjaga warung. “Lebih gampang langsung naik opang. Tinggal bilang mau ke mana,” ujarnya. Kesetiaan dan kenyamanan menjadi faktor utama bertahannya opang, terutama bagi penumpang yang lebih tua atau tidak terbiasa aplikasi.
Banyak opang juga dikenal melayani secara personal, seperti membantu mengangkat barang atau menunggu penumpang lansia. “Kalau belanjaan banyak, mereka bantu tanpa saya minta,” kata Nurhayati. Bagi sebagian penumpang, aspek semacam ini tidak tergantikan oleh sistem online.
Tidak Hilang, Hanya Berubah Bentuk
Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai keberadaan opang di Jakarta Pusat fenomenal. “Opang itu sebenarnya asal muasal ojol. Ketika diberikan fasilitas online, pelanggan menjadi lebih mudah mengaksesnya,” kata Djoko. Namun, perkembangan ojol membuat Opang tersudut. Djoko mengatakan bahwa mereka kalah dari sistem karena orang sekarang terbiasa menggunakan aplikasi.
Meski jumlah opang menurun, mereka tetap eksis di daerah dengan jaringan internet lemah atau pelanggan tetap. “Di beberapa daerah, opang masih jadi andalan. Tarifnya bisa tinggi,” kata Djoko. Di Jakarta Pusat, jumlah Opang memang sudah jauh berkurang, namun keberadaan mereka masih akan bertahan di titik-titik tertentu seperti stasiun besar atau pasar tradisional.
“Mereka ada karena punya basis pelanggan tetap. Eksis bukan karena sistem, tapi karena relasi,” kata dia lagi. Di tengah modernisasi transportasi, opang tetap bertahan karena hubungan sosial, keterampilan, dan loyalitas penumpang. Di kawasan Gondangdia, Juanda, hingga Senen, mereka berdiri setiap hari dengan motor tua, jas hujan tipis, dan kemampuan membaca arah tanpa GPS. Mereka mungkin tidak lagi ramai, tapi masih hidup berkat penumpang setia dan persahabatan antarpengemudi.